Skip to content

Ironi Pertambangan Freeport

September 27, 2011

Sumberrepublika.co.id, 19 Maret 2010

Faktanya, orang Indonesia yang ditempatkan menjadi komisaris di Freeport adalah komisaris independen. Bagi rakyat Indonesia, hal ini dapat dikatakan sebagai pelecehan.

Marwan Batubara
Peneliti Indonesia Resources Studies (IRESS)

Pertambangan Freeport sudah tak asing bagi orang Indonesia, karena keberadaannya di Provinsi Papua sudah lebih dari empat dekade. Selama menambang di Papua, Freeport kerap mendapat kritik terkait penerimaan Indonesia yang tidak berimbang, permasalahan lingkungan, serta konflik sosial yang terjadi di wilayah sekitar pertambangan. Tulisan ini mengungkap fakta praktik pertambangan Freeport, untuk menjadi refleksi bersama agar pemanfaatan sumber daya alam untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dapat terwujud.

Potensi tambang Freeport tersimpan di Gunung Ertsberg dan Grasberg, Timika. Kedua wilayah ini menghasilkan tiga jenis mineral, yaitu tembaga, emas dan perak, di samping beberapa jenis mineral lain yang bukan produk resmi tambang. Potensi tambang telah dieksploitasi mengikuti pola Kontrak Karya (KK) yang pertama kali ditandatangani pada 1967.

Selama ini penerimaan negara dan daerah Papua dari tambang Freeport masih belum optimal. Faktanya, dari tahun ke tahun penerimaan negara selalu lebih kecil dari keuntungan Freeport, dan rakyat di sekitar tambang masih banyak yang miskin.

Potensi Ertsberg dan Grasberg

Pada tahun 1936, sebuah tim dipimpin geolog Belanda, Jean-Jacques Dozy, melakukan ekspedisi ke Papua dan menemukan singkapan batuan yang ditengarai mengandung mineral berharga. Cozy menemukan “Ertsberg” atau Gunung Bijih yang terletak di kaki pegunungan bersalju. Laporan Dozy ini dimuat dalam majalah geologi di Leiden, Belanda tahun 1939, dan mengilhami seorang manajer eksplorasi Freeport Minerals Company, Forbes Wilson, bersama Del Flint pada tahun 1960 melakukan ekspedisi.

George A Mealey dalam bukunya, “Penambangan Tembaga dan Emas di Pegunungan Irian Jaya”, mengungkapkan, Ertsberg merupakan deposit tembaga terkaya yang pernah ditemukan di atas permukaan tanah. Analisis laboratorium menunjukkan kandungan tembaga 13 juta ton bijih di Ertsberg. Selain itu, terdapat 14 juta ton bijih untuk setiap kedalaman 100 meter. Diperkirakan potensi Ertsberg mencapai 50 juta ton bijih mineral.

Dinas Pertambangan Papua menyebutkan cadangan Ertsberg sebanyak 35 juta ton, dengan kadar Cu 2,5 persen. Jika diasumsikan harga rata-rata tembaga dan emas selama sekitar 20 tahun periode penambangan di Ertsberg masing-masing 2.000 dolar AS per ton dan 200 dolar AS per ons, maka pendapatan yang dapat diraih dari Ertsberg adalah (35 juta ton x 2.000 dolar AS per ton +15 juta ons x 200 dolar AS per ons) = 100 miliar dolar AS. Dari potensi 100 miliar dolar AS ini, tidak diketahui secara akurat berapa pendapatan yang diterima negara.

Juga tak ditemukan data yang akurat tentang berapa nilai produk tambang yang sudah dihasilkan dari Ertsberg. Dalam kesepakatan awal sesuai KK, tampaknya disetujui Ertsberg hanya akan memproduksi tembaga. Ternyata Ertsberg juga menghasilkan emas sebagai by product.

Namun tidak jelas berapa pendapatan Freeport dari produk emas sebagai by product ini. Tidak ada orang Indonesia yang mengikuti proses pemurnian konsentrat secara saksama. Di samping itu, pada periode awal penambangan, pemurnian konsentrat dilakukan di Jepang, Spanyol dan Amerika.

Di samping tembaga sebagai produk utama, sejak semula Freeport memang telah menghasilkan emas dan perak. Selain itu, selama periode penambangan Freeport adalah perusahaan tertutup, sehingga berbagai aspek finansial perusahaan dapat saja tersembunyi dari akses pemerintah dan publik.

Dengan demikian, penerimaan negara dari Ertsberg menjadi tidak optimal. Namun di sisi lain, Freeport telah menjelma menjadi perusahaan tambang raksasa kelas dunia yang saat ini mempunyai total aset sekitar 26 miliar dolar AS (www.fcx.com).

Setelah menambang di Ertsberg hingga akhir tahun 1980-an, Freeport berpindah ke Grasberg, sesuai KK (KK Generasi V) yang ditandatangani pada 1991. Penambangan di Grasberg dilakukan secara terbuka dan juga melalui deep ore zone (DOZ), penambangan gua blok bawah tanah (underground block cave).

Penambangan open pit menghasilkan bijih sekitar 57 juta metrik ton pada 2009 hingga 2016. Sedangkan DOZ pada 2009 menghasilkan bijih mineral sekitar 26 juta metrik ton hingga 2020. Total produksi Freeport dari Grasberg pada 2009 adalah 1,4 miliar pound tembaga dan 2,6 juta ons emas.

Berdasarkan laporan keuangan Freeport tahun 2009, disebutkan bahwa cadangan emas, tembaga dan perak tambang Grasberg masing-masing sebesar 38.5juta ons, 56,6 miliar pound dan 180,8 juta ons. Dengan harga rata rata harga emas, tembaga dan perak selama periode penambangan diasumsikan masing-masing sebesar 1.000 dolar AS per ons, 3,5 dolar AS per pound dan 0,96 dolar AS per ons, maka total potensi yang dapat diperoleh adalah (38,5 juta ons x 1.000 dolar AS per ons + 56.6 miliar pound x 3,5 dolar AS per pound + 180,8 juta ons x 0,96 dolar AS per ons = 236,77 miliar dolar AS (sekitar Rp 2.200 triliun !!). Kita sangat yakin akan diperolehnya pendapatan tambahan karena konsentrat yang dihasilkan juga mengandung sejumlah mineral lain seperti cobalt, seng, dan platina.

Penerimaan negara

Indonesia melalui produksi Freeport tercatat sebagai sepuluh produsen tembaga terbesar di dunia. Produksi tembaga terus meningkat setiap tahun, dari 928,200 ton pada tahun 1993 hingga 1,06 juta ton (1994), 1,52 juta ton (1995) dan 2,8 juta ton (2009). Dengan permintaan meningkat, ke depan Freeport memiliki peluang besar memperoleh keuntungan berlipat. Sampai saat ini produksi ketiga jenis barang tambang di Indonesia didominasi Freeport.

Selama menambang di Papua Freeport telah memperoleh keuntungan finansial yang sangat besar. Total keuntungan Freeport Indonesia (PTFI) tahun 2004-2008 adalah 10,762 miliar dolar AS, sedangkan total penerimaan negara dari pajak dan royalti hanya 4,411 miliar dolar AS. Pada tahun 2008, Freeport memperoleh keuntungan sebesar 1,415 miliar dolar AS, sedangkan pemerintah memperoleh 725 juta dolar AS. Pada tahun 2009, laporan keuangan FCX menyatakan keuntungan PTFI adalah 4,074 miliar dolar AS, sedang penerimaan negara hanya 1,7 miliar dolar AS.

Ternyata setelah lebih 40 tahun Freeport mengeduk kekayaan alam kita di Papua, saham milik pemerintah di perusahaan, tetap sebesar 9,36 persen. Dengan itu, kita tidak berwenang menempatkan seorang direktur pun untuk ikut mengelola perusahaan. Yang lebih mengenaskan, jangankan seorang direktur, seorang komisaris pun pemerintah tak mampu menempatkannya.

Hal ini terungkap dari pernyataan deputi Kementerian BUMN, Sahala Lumban Gaol, yang mengatakan (4 Maret 2010) Freeport meminta pemerintah RI mengusulkan nama calon komisaris Freeport, mewakili pemerintah, untuk mengikuti fit and proper test.

Faktanya, orang Indonesia yang ditempatkan menjadi komisaris di Freeport adalah komisaris independen. Bagi rakyat Indonesia, hal ini dapat dikatakan sebagai pelecehan. Namun di sisi lain, kejadian ini merupakan cerminan dari mental inlander yang diidap oleh sejumlah oknum pejabat Indonesia, yang membiarkan berlangsungnya penjajahan ini hingga sekarang. Oleh sebab itu, kita menuntut pemerintah dan DPR untuk segera melakukan perbaikan berupa perubahan KK, peningkatan pemilikan saham dan kewenangan ikut mengelola Freeport.

Upaya untuk melakukan perbaikan kontrak telah dilakukan namun tanpa rencana dan desain komprehensif dan tanpa perjuangan yang konsisten, serta terdistorsi oleh berbagai oknum dan perilaku KKN, sehingga berujung pada kegagalan. Kegagalan tersebut, juga karena kita berhadapan dengan organisasi dan negara yang sangat kuat di satu sisi, dan belum bersatunya seluruh komponen bangsa, termasuk adanya kom-prador di sisi lain.

Kita sebagai bangsa harus memulai langkah-langkah perbaikan saat ini juga, diawali dengan penerbitan sebuah PP/Keppres korektif (terhadap PP No.20/1994), perubahan KK, hingga peningkatan pemilikan saham Freeport (PTFI) oleh konsorsium pemerintah dengan BUMN dan BUMD milik Papua. Rakyat Indonesia harus menyadari pelajaran dan kebodohan dari kasus penjualan saham ini bahwa sumber daya alam milik negara telah digadaikan Freeport kepada investor untuk memperoleh modal, pinjaman dan peningkatan value perusahaan. Bed zaky ah.

Lihat juga:
Tambang Emas Freeport: Kekayaan Negara yang Terampas (1)
Tambang Emas Freeport: Kekayaan Negara yang Terampas (2)

From → Referensi

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: